Refleksi Hari Santri: Menjadi Santri yang Par Excellence

Baca Juga :


Oleh: Nasfa Uuth Akhmadie*
   
Tumbangnya Orde Baru menjadi penanda awal tentang spirit perubahan; kerak-kerak yang menggumpal lama, akhirnya rontok oleh semangat kebebasan dan keterbukaan. Praktek ketimpangan dan pemasungan kebebasan saat orde baru menjadi titik awal perjuangan masyarakat sipil. Pada akhrinya, advokasi berbasis identitas, kebebasan beragama dan pembelaan terhadap proses eksklusi kelompok tertentu, menjadi visi yang seksi untuk disuarakan, termasuk pula entitas kaum sarungan; Santri. Tidak aneh, bila pembelaan berbasis keadilan identitas, menjadi isu paling menawan oleh Kaum Santri yang dihembuskan oleh Proponen ideologi liberalisme. Penanda fase ini, munculnya kekuatan Santri kelas kakap yang terinstitusionalisasi lewat JIL, Freedom Institute, cum suis.

Setelah lebih satu dekade tumbangnya Orde Baru, visi perjuangan keadilan identitas dan kebebasan itu popularitasnya kian meredup, lebih-lebih ketika banyak kasus tak tertangani secara serius oleh para demagog liberalisme ini. Penulis secara random mengamati beberapa kasus, salah satu misalnya, Syiah Sampang yang sampai hari ini tidak tersentuh oleh pembelaan riil kaum liberalisme ini. Mereka, kaum liberalisme itu, hanya beroperasi pada takaran yang tidak sungguh-sungguh menyentuh akar persoalan, apalagi ketika sebuah kajian secara terbatas menyebutkan bahwa petaka Syiah-Sampang tidak sekedar problem keadilan dan sentimen identitas, melainkan problem material.

Temuan dimuka, Sebagaimana diungkapkan Fraser (2003) dalam bukunya “The Social Justice in the Age of Identity Politics”, bahwa proponen ideologi liberalisme terjebak pada kesadaran palsu, argument mereka bersifat counter productive karena tidak berpijak pada persoalan sosial ekonomi aktual dan menolak moralitas universal dengan terbenam dalam etika relativitas. Masalah ketidakadilan kultural (Misrecognition) dengan menerapkan metode dekonstruksi-hermeneutik, pada akhirnya abai terhadap problem distribusi (Redistribution Matters) sebagai pangkal paling ujung dalam melihat problem sosial yang terjadi.

Ketegangan dua warna visi gerakan dimuka, sangat penting untuk dikemukakan di Hari Santri ini. Bila secara historiografi, Resolusi Jihad merupakan masterpiece Kaum Santri dalam mengawal dan memperjuangkan kedaulatan Negara ini, maka, Kaum Santri saat ini harus bisa mengambil sikap terhadap ketegangan dua warna dari visi gerakan dimuka, agar tidak sekedar sebagai bagian kelas menegah ngehek, namun menjadi yang Par-Excellence.

Fungsi Profetis Agama dan Keberpihakan pada Mustadh’afin

Fungsi profetis agama ialah sebagai pembebas kaum tertindas, mengangkat derajat dan martabat kaum miskin, serta mengimbangi praktik culas politik, itulah sebabnya Musa, Isa dan Muhammad, misalnya, dicap sebagai subversif oleh pemegang kuasa saat mereka hidup. Dari berbagai kisah tentang mereka kita dapat menyimpulkan bagaimana Musa menjadi pembebas yang bertentangan bagi Fir’aun yang lalim, Isa mengampanyekan oposisi bagi imprealis Byzantium dan Muhammad menjadi lawan serius praktik abuses of power yang dilakukan bangsawan Quraisy Mekah.

Secara umum, Barduzzaman (2009) menyebutkan, kisah kaum mustadhafin dalam Al-Qur’an menghadirkan tiga kutub: pertama, kekuatan penindas (mustadh’ifin), kedua, kelompok yang tertindas dan lemah (mustadh’afin), dan ketiga, kekuatan pembebas dan pembela kaum penindas dalam membela kaum penindas. Yang terakhir adalah kekuatan yang dipimpin dan dipelopori oleh para nabi dan utusan Tuhan. Ini menunjukkan, sejak semula kehadirannya agama-agama besar dunia memang berwatak subversif terhadap kekuasan yang ada disekitarnya. Karena memang demikianlah cita agama dirumuskan, mengubah tata nilai lama yang bobrok dan menindas dengan tata nilai baru yang humanis dan memihak kaum lemah.

Dalam al-Qur’an, istilah mustadh’afin sendiri tidak hanya terbatas pada golongan orang yang tertindas dan lemah  secara ekonomi saja (Redistribution Matters), tetapi juga sosial maupun politik (Recognition). Maka, Mustadh’afin sebagai subjek perjuangan, harus diatasi oleh gabungan (kontinum) diantara dua dimensi perjungan dimuka: Pertama, Visi Liberalisme dengan metode Dekonstruksi-Hermeneutik sebagai alat perjuangan untuk mendedah problem ketidakadilan dan penindasan sosial-identitas-politik, sedangkan Kedua, Visi Keadilan Redistributif dengan metode ekonomi-politik (Sosialis) sebagai alat perjuangan untuk mengadvokasi problem ketimpangan distribusi material. Integrasi dua pendekatan itu, akan membentuk komitmen dan sikap perjuangan Kaum Santri yang lebih menyeluruh, sehingga tidak terkotak dalam salah satu varian saja.

Menjadi Santri Par-Excellence

Era Gus Dur sebagai personifikasi pembela minoritas dan komitmen Cak Nur terhadap penyegaran kembali keislaman, mengukuhkan atribut Santri Par Excellence terhadapnya. Namun, sebagai suatu era yang terus berarak dinamis, maka Kaum Santri juga harus terus melakukan pembiakan dalam komitmen perjuangannya demi terus menegaskan sebagai yang Par Excellence itu.

Ada banyak problem yang senantiasa terus mengiringi langkah republik ini, dan itu tidak cukup hanya mengukuhkan kekakuan keberpihakan dalam salah satu pilihan dimensi perjuangan. Kasus korporatokrasi tambang dan minyak bumi, arogansi dan kesewenangan Pabrik Semen, dan kejahatan atasnama perusakan lingkungan tidak cukup hanya menggunakan pendekatan parsial lewat visi liberalisme dan komitmen kepedulian (Rekognisi) semata. Hal yang sama juga, ketika Santri dihadapkan dengan problem identitas seperti laiknya Ketimpangan Gender, Dikotomi Pribumi-Non Pribumi, atau praktik kekerasan mayoritas terhadap minoritas – baik atas nama agama maupun yang lainnya--, tentu tidak cukup hanya menggunakan pendekatan ekonomi-politik dan visi pemerataan distribusi.

Bila Resolusi Jihad, adalah momentum kebangkitan santri sebagai komitmen perjuangan kemerdekaan bangsa ini, maka komitmen integrasi Rekognisi-Redistribusi adalah komitmen selanjutnya yang harus menjadi titik pijak Kaum Santri untuk senantiasa hadir dalam melakukan pembelaan terhadap kaum Mustadh’afin. Sehingga, Santri tidak lagi di stigma sebagai kelas menengah yang serba magak, namun menjadi entitas yang responsif dan senantiasa hadir dalam setiap problem bangsa. Selamat Hari Santri, semoga tulisan ini melampaui sekedar perayaan superfisial, dan ingar-bingar tanpa makna, namun dapat memberikan titik penerang bagi langkah perjuangan santri kedepan.
 
*Penulis sedang nyantri kepada Ulama sebagai Sekretaris PAC IPNU Kec. Rungkut
dan Fungsionaris PC IPNU Kota Surabaya

COMMENTS

Name

bangkalan,2,Banyuwangi,171,Blitar,9,Bondowoso,3,Catatan Redaksi,8,Dimas Kanjeng,11,Economy,96,edinarcoin,10,familysiana,2,Fresh Graduate,22,gaya hidup,63,Goverment News,216,Haji 2017,32,headline,169,HSN 2016,6,Idul Adha,1,info gadget,1,Jember,18,Jombang,149,kajatizen,8,Kampus,62,kesehatan,4,khofifah,1,Klinik Kabarjatim,15,Makro mikro,10,Malang,1,metropolitan,32,NU,43,Olahraga,6,Otomotif,25,Pamekasan,3,Parlementaria,13,Partai Demokrat,4,PDI Perjuangan,3,Pemprov Jatim,4,pendidikan,122,peristiwa,489,Pesantren,8,Pilbup Bondowoso,3,Pilgub Jatim,71,PLN Jatim,1,PMII,3,PNS,1,Polhukam,75,Politik&pemerintahan,111,polres jombang,71,Property,2,PSHM Jombang,2,Review Film,40,Sampang,41,Science,1,sektor riil,21,Seputar Jatim,204,Seputar Nusantara,48,Seputar Pilkada,24,Sidoarjo,1,slider,2,Softnews,47,Sumenep,3,surabaya,23,techno,35,TNI,30,Tokoh,4,Travel Food,50,
ltr
item
KabarJatim: Refleksi Hari Santri: Menjadi Santri yang Par Excellence
Refleksi Hari Santri: Menjadi Santri yang Par Excellence
https://3.bp.blogspot.com/-h6F58NG81mg/WArK6R6VCmI/AAAAAAAAAWQ/ct4-YMQuUR4-RcQEFq2bEyacXHUvFWdlQCLcB/s1600/IMG_5448.JPG
https://3.bp.blogspot.com/-h6F58NG81mg/WArK6R6VCmI/AAAAAAAAAWQ/ct4-YMQuUR4-RcQEFq2bEyacXHUvFWdlQCLcB/s72-c/IMG_5448.JPG
KabarJatim
http://www.kabarjatim.com/2016/10/refleksi-hari-santri-menjadi-santri.html
http://www.kabarjatim.com/
http://www.kabarjatim.com/
http://www.kabarjatim.com/2016/10/refleksi-hari-santri-menjadi-santri.html
true
4920518583782559474
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts Lihat Index selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All DIREKOMENDASIKAN LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum'at Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy