Bid’ah Cinta, Inspirasi Pentingnya Merawat Keberagaman

Baca Juga :

JAKARTA - Tokoh Muhammadiyah, M Sobari, mengapresiasi pembuatan film Bid'ah Cinta yang disutradarai Nurman Hakim.

Kisah percintaan yang terbentur pemahaman keagamaan yang berefek pada ketegangan komunitas itu dinilai bisa menjadi gambaran dans ekaligus solusi bagaimana cara menghadapi perbedaan dan menghindari ketegangan.

Di tengah masyarakat yang saat ini mudah tersulut provokasi atas perbedaan pemahaman keagamaan itu, maka film tersebut sekaligus memberikan pesan bahwa  adanya suatu perbedaan itu justru suatu keniscayaan mewujudkan cinta.

"Yang paling penting dari pesan yang ada di film ini bahwa ketegangan kolektif yang melibatkan komunitas, bisa ditunda, tidak sekedar adanya pernikahan. Tetapi ada kesadaran bahwa ketegangan itu justru banyak mudharatnya. Jadi ada kesadaran apa yang menjadi wujud damai di langit harus diciptakan di bumi. Itu intinya," kata Sobari, dalam diskusi "Kala Asmara Terbentur Paham Agama" usai nonton bareng film Bid'ah Cinta, di XXI Epicentrum, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Nonton bareng dan diskusi diikuti seratusan orang dari berbagai komunitas dengan dipandu dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Nanang Tahqiq. Adapun pembicara dalamdiskusi tersebut selain Kang Sobari adalah Rumadi dari Lakpesdam NU, Fajar Riza Ulhaq dari Maarif Institute, dan Tsamara Amani dari perwakilan mahasiswa Universitas Paramadina. Acara nonton bareng dan diskusi tersebut diselenggarakan oleh Nurcholis Madjid Society. Hadir juga dalam acara itu sutradara dan para pemain film Bid'ah Cinta.

Dalam film Bid'ah Cinta digambarkan bagaimana cinta antara Khalida dan Kamal yang terbentur perbedaah pemahaman keagamaan. Kedua orang tuanya juga kemudian ikut terlibat dalam ketegangan tersebut, bahkan hingga merembet ke komunitas masyarakat. Namun pada akhirnya, ada pemahaman dan suatu kesepakatan agar tidak menjadikan perbedaan itu agar tidak menjadi ketegangan dan sepakat untuk saling menghormati.

Kang Sobari mengungkapkan, dalam soal perbedaan pemahaman, NU dan Muhammadiyah bisa menjadi potret betapapun ada perbedaan tetapi sekarang sudah menunjukkan saling menghormati. Bahkan, Sobari melihat justru perbedaan antara Muhammadiyah dan NU didasari pemahaman cinta.
"Perbedaan itu didasari rasa cinta. Orang NU tidak ingin orang Muhammadiyah sesat, orang Muhammadiyah juga tidak ingin orang NU sesat. Jadi perbedaan itu dasarnya cinta," ungkapnya.

Jadi, film tersebut bisa dikatakan potret yang jika dilihat dinamika sekarang NU dan Muhammadiyah sudah mencontohkan bahwa adanya perbedaan mereka tidak menjadikan saling mengolok-olok.

"Gambaran ini, bagus untuk merawat kebersamaan di masyarakat. Karena ketegangan sekarang ini, terjadi bahkan soal orang mati dipolitisasi dengan ancamanan tidak dishalatkan," ungkapnya.
Sutradara film Bid'ah Cinta, Nurman Hakim mengatakan, dalam film yang dibuatnya ada harapan masyarakat yang menonton terinspirasi dalam menyikapi perbedaan agar tidak menjadi konflik.

"Ini terinspirasi dari adanya kekhawatiran di beberapa daerah, yang mempertentangkan soal faham keagamaan dan potensial menjadi konflik. Jadi penulisan film ini memang dilatarbelakangi kekhawatiran konflik yang dilatarbelakangi perbedaan paham," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU Rumadi Ahmad mengapresiasi kejelian sutradara film Bid'ah Cinta, Nurman Hamim karena film yang dibuatnya berhasil menyuguhkan edukasi bagaimana hidup toleran di tengah masyarakat yang beragam, baik dari sisi suku maupun agama.

Menurut Rumadi, film Bid'ah Cinta yang didalamnya menceritakan adanya ketegangan akibat perbedaan pemahaman keagamaan telah menjadi cermin kondisi sekarang ini. Dan dalam cerita di film tersebut, setidaknya bisa menjadi gambaran juga bahwa cinta dan saling menghormati bisa menjadi jembatan atas perbedaan.

"Saya mengapresiasi keterusterangan dalam mengangkat masalah ketegangan seperti ini. Karena selama ini di dunia nyata ini hanya menjadi gunjingan di pojokan saja. Nah di sini di film ini disampaikan secara terus terang. Orang banyak yang bilang masalah ini sensitif, tetapi di film ini berhasil suguhkan suatu yang serius tetapi dengan santai, bahkan bisa dengan tertawa. Itu yang saya apresiasi," kata Rumadi.

Menurut Rumadi, ketegangan komunitas sebagaimana digambarkan dalam film tersebut yang dipicu perbedaan pemahaman bukanlah cermin NU dan Muhammadiyah dalam menyikapi perbedaan. Kalau NU dan Muhammadiyah sekarang ini, kata dia, justru sudah saling mendekat diantara perbedaan-perbedaan yang ada. Tidak ada lagi ketegangan soal perbedaan qunut, ziarah kubur, tahlil, hingga soal penentuan hari raya.

"Sekarang sudah saling mendekat, tidak lagi ada kenyinyiran. Bahkan yang dulu menjadi perbedaan sekarang bisa menjadi bahan untuk joke. Dulu ziarah kubur, perdebatannya soal pokok agama, soal kemusyrikan, tetapi itu sekarang itu sudah bisa mentoleransi di masyarakat kita. Kemudian soal hari raya, itu soal prinsip lho, karena soal haram dan halalnya makan. Tetapi mereka (NU-Muhammadiyah) bisa mentoleransi," ungkapnya.

Sekarang ini, dalam kehidupan bermasyarakat baik NU maupun Muhammadiyah berdamai soal khilafiyah. "Sekarang ini ada kelompok yang menimbulkan persoalan baru dan ketegangan baru. Jadi yang konflik itu bukan tradisi Muhammadiyah maupun NU. Tetapi varian lain," ungkap Rumadi tanpa menyebutkan kelompok yang dimaksud.

"Jadi film ini mengajak kita untuk berdikir dan merenung untuk maju. Orang lain sudah kemana-mana kenapa kita masih berhadapan soal pertentangan?," pungkasnya.

COMMENTS

Name

bangkalan,2,Banyuwangi,171,Blitar,9,Bondowoso,3,Catatan Redaksi,8,Dimas Kanjeng,11,Economy,96,edinarcoin,10,familysiana,2,Fresh Graduate,22,gaya hidup,63,Goverment News,216,Haji 2017,32,headline,169,HSN 2016,6,Idul Adha,1,info gadget,1,Jember,18,Jombang,149,kajatizen,8,Kampus,62,kesehatan,4,khofifah,1,Klinik Kabarjatim,15,Makro mikro,10,Malang,1,metropolitan,32,NU,43,Olahraga,6,Otomotif,25,Pamekasan,3,Parlementaria,13,Partai Demokrat,4,PDI Perjuangan,3,Pemprov Jatim,4,pendidikan,122,peristiwa,489,Pesantren,8,Pilbup Bondowoso,3,Pilgub Jatim,71,PLN Jatim,1,PMII,3,PNS,1,Polhukam,75,Politik&pemerintahan,111,polres jombang,71,Property,2,PSHM Jombang,2,Review Film,40,Sampang,41,Science,1,sektor riil,21,Seputar Jatim,204,Seputar Nusantara,48,Seputar Pilkada,24,Sidoarjo,1,slider,2,Softnews,47,Sumenep,3,surabaya,23,techno,35,TNI,30,Tokoh,4,Travel Food,50,
ltr
item
KabarJatim: Bid’ah Cinta, Inspirasi Pentingnya Merawat Keberagaman
Bid’ah Cinta, Inspirasi Pentingnya Merawat Keberagaman
https://2.bp.blogspot.com/-WyaS-vsOqmo/WNjI5fYsZcI/AAAAAAAADAU/NQk4SlQx7HEpOc6tqagQAQfN7RTaHQUOgCLcB/s320/Bidah%2BCinta.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-WyaS-vsOqmo/WNjI5fYsZcI/AAAAAAAADAU/NQk4SlQx7HEpOc6tqagQAQfN7RTaHQUOgCLcB/s72-c/Bidah%2BCinta.jpg
KabarJatim
http://www.kabarjatim.com/2017/03/bidah-cinta-inspirasi-pentingnya.html
http://www.kabarjatim.com/
http://www.kabarjatim.com/
http://www.kabarjatim.com/2017/03/bidah-cinta-inspirasi-pentingnya.html
true
4920518583782559474
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts Lihat Index selengkapnya Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All DIREKOMENDASIKAN LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Ming Sen Sel Rab Kam Jum'at Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Des baru saja 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago lebih dari 5 minggu yang lalu Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy